.

.

Sabtu, 25 Mei 2013

MASYARAKAT ISLAM DAN KEBUDAYAAN DIGITAL*


“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Ali Imran: 110)
Kebudayaan adalah suatu fenomena universal, setiap bangsa dan masyarakat memilikinya. Meski dalam bentuk dan warna yang berbeda. Keduanya saling berkaitan, manusia menciptakan kebudayaan, namun disisi yang lain manusia diciptakan oleh kebudayaan.
Islam hadir dengan visi rahmatan lil’alamin untuk menyeimbangi permasalahan yang diproduksi oleh kebudayaan dimanapun dan kapanpun. Karena mengemban visi rahmatan lil’alamin, Islam hadir untuk memberikan kontribusi positif disetiap dinamika ruang dan waktu termasuk kebudayaan.
Manusia dan Kebudayaan
Para pakar antropologi budaya Indonesia umumnya sependapat, bahwa kata “kebudayaan” secara terminology berasal dari bahasa Sansakerta buddhayah. Kata Buddhayah adalah bentuk jamak dari kata buddhi, yang berarti “budi” atau “akal”. Sedangkan secara etimologi kebudayaan adalah hal-hal yang berkaitan dengan (daya) akal, berupa cipta, karsa dan rasa. (Rafael Raga Maran, 1999)
Dari definisi tersebut, kita dapat mengetahui bahwa manusia dan kebudayaan sangat berhubungan erat. Karena kebudayaan adalah suatu fenomena universal. Setiap masyarakat-bangsa di dunia memiliki kebudayaan, meskipun bentuk dan coraknya berbeda-beda. Sebagai cultural being, manusia adalah pencipta kebudayaan. Dan sebagai ciptaan manusia, kebudayan adalah ekspresi eksistensi manusia di dunia. Pada kebudayaan, manusia menampakkan jejak-jejaknya dalam panggung sejarah.
Namun manusia dan kebudayaan, pada dasarnya berhubungan secara dialektis. Ada interaksi kreatif antara manusia dan kebudayaan. Kebudayaan adalah produksi manusia, namun manusia sendiri adalah produk kebudayaannya. Itulah dialektika fundamental yang mendasari seluruh proses hidup manusia. Dialektika fundamental itu terdiri dari tiga unsur:
Eksternalisasi, yaitu proses pencurahan diri manusia secara terus menerus kedalam dunia melalui aktifitas fisik dan mentalnya. Melalui unsur ini manusia menciptakan kebudayaan.
Objektivasi, yaitu tahap dimana aktivitas manusia menghasilkan suatu realitas objektif yang berada diluar diri manusia. Jika dalam tahap eksternalisasi manusia sibuk melakukan kegiatan fisik dan mental, maka dalam tahap objektivasi, kegiatan tersebut sudah menghasilkan produk-produk tertentu, seumpama gedung, mobil, computer, lukisan, patung, buku-buku ilmiah dan sebagainya.
Internalisasi, ialah tahap dimana realitas objektif hasil ciptaan manusia kembali diserap oleh manusia. Dengan perkataan lain, struktur dunia objektif, hasil karyanya ditransformasikan kembali kedalam struktur kesadaran subjektifnya. Melalui eksternalisasi, manusia menciptakan kebudayaan. Sedangkan dengan tahap internalisasi, kebudayaan membentuk manusia. Dengan kata lain, manusia merupakan produk kebudayaan dalam proses tersebut.
Kebudayaan; Unsur-unsur serta faktor pembentuknya
Memilah-milah kebudayaan dalam unit-unit kecil atau membangun pola-pola kebudayan berdasarkan ciri-ciri tertentu bukanlah hal yang mudah untuk memahami kebudayaan. Cara yang lebih praktis ialah memandang kebudayaan sebagai susunan dua konfigurasi atau komponan besar yang saling berhubungan, yakni:
Kebudayaan material, yaitu segala macam objek fisik buatan manusia.
Kebudayaan non-material, terdiri dari pengetahuan dan kepercayaan, norma dan nilai, tanda dan bahasa.
Adapun unsur-unsur dasar kebudayaan, diantaranya: Kepercayaan, nilai, norma dan sanksi, tekhnologi, symbol, bahasa, kesenian dsb.
Adapun pengaruh utama yang membentuk dan mengubah kebudayaan adalah:
1. Ras atau faktor genetik (keturunan)
2. Lingkungan alam atau faktor geografis
3. Okupasi atau faktor ekonomis
4. Fikiran atau faktor psikologis
Masyarakat Islam dan Kebudayaan
Eksistensi manusia di dunia ditandai dengan upaya tiada henti-hentinya untuk menjadi manusia. Upaya ini berlangsung dalam dunia ciptaanya sendiri, yang berbeda dengan dunia alamiah, yakni kebudayaan.
Seperti yang telah diuraikan diatas, manusia mempunyai kesempatan untuk menciptakan kebudayaan. Dalam konteks dakwah melalui pendekatan kebudayaan, masyarakat Islam (muslim) memiliki ruang untuk melakukan pengembangan terhadap eksternalisasi kebudayan itu sesuai dengan visi dakwah Islam. Atau mungkin melakukan internalisasi objektivitas kebudayaan untuk melakukan penetrasi pengembangan masyarakat yang Islami. Artinya, masyarakat Islam hanya tinggal mentransformasikan nilai-nilai Islam.
Dalam konteks keindonesiaan, hal tersebut telah dilakukan oleh para pengemban panji dakwah nusantara. Para Wali melakukan pengembangan dakwah terhadap masyarakat melalui pendekataan kebudayaan wayang, mereka melakukan eksplorasi objektivitas kebudayaan agama hindu yang kala waktu itu berupa wayang. Selanjutnya, mereka melakukan eksplorasi Eksternalisasi berupa perubahan cerita dengan tidak merubah tokoh-tokoh pewayangan untuk kemudian melakukan Internalisasi nilai Islami terhadap masyarakat jawa.
Membaca Problematika Umat Saat Ini
Dunia dengan seluruh dinamika serta kompleksivitasnya merupakan hasil dari kebudayaan. Baik disadari ataupun tidak, kebudayaan itu terbentuk seiring dengan perjalanan sejarah manusia. Dinamika permasalahan membuat manusia melakukan eksplorasi kebudayaan secara terus menerus. Baik berupa material ataupun non-material. Bisa kita lihat, kebudayaan material untuk konteks kekinian berkembang dengan pesatnya, arus globalisasi adalah bagian dari dinamika tersebut. Dunia seakan-akan sebuah kampung kecil yang bisa dikunjungi dengan mudah tanpa melangkahkan kaki. Maka lahirlah benda-benda cyber super canggih, benda-benda digital berhamburan, hp, laptop, modem, serta aplikasinya seperti internet sudah menjadi bagian dari Internalisasi kebudayaan terhadap masyarakat.
Adapun kebudayaan non-material yang dihasilkan untuk konteks kekinian berupa norma, keyakinan, faham yang dihasilkan arus globalisasi. Seperti cara pandang materialisme, liberalisme, sekularisme dan hedonisme. Sehingga memungkinkan syahwat kapitalis serta faham-faham yang lain tumbuh dan berkembang. Mungkin, dulu orang ketika ingin memberi kabar cukup dengan secarik kertas dan sebuah ball poin. Akan tetapi dalam kebudayaan kekinian, seseorang tidak terlalu membutuhkan hal tersebut.
Cukup dengan memiliki perangkat hp, maka akses informasi-pun secara cepat terjadi. Begitupula jika tarik kedalam kasus budaya perdukunan, dulu orang harus berkilo-kilo dengan mendaki gunung untuk bertemu dengan ‘Mbah dukun’. Sekarang cukup dengan memijit jari saja dengan ketik ‘REG PRIMBON’ atau ‘REG JODOH’, maka transaksi perdukunan pun terjadi.
Da’wah dan Kebudayaan Digital
Dalam konteks diatas, kita dapat melihat bahwa manusia dan kebudayaan merupakan hal yang tak dapat dipisahkan. Keduanya saling memberi pengaruh. Keduanya pun berjalan secara dinamis sesuai dengan permasalahan serta kebutuhan zamannya. Namun, bagi seorang muslim hal tersebut tidak dapat merobohkan tujuan utama penciptaan manusia. Dinamika tersebut tidak sedikitpun harus meleburkan pengabdian kepada-Nya, justru dengan adanya dinamika tersebut seorang muslim harus mampu mengeksplorasi, baik itu melakukan Eksternalisasi, Objektivitas kedalam Shibgah Islam untuk kemudian masuk dalam proses Internalisasi kebudayaan yang akhirnya bisa memberi warna dengan corak Islam.
Oleh karenanya, da’wah mempunyai ruang didalam kebudayaan tersebut. Tinggal kita memilah dan memilih didalam melakukan langkah dakwah dalam kebudayaan. Seperti kita ketahui, perkembangan dunia digital saat ini telah berkembang dengan cepatnya. Maka butuh eksplorasi Eksternalisasi dan Interanalisasi. Meski kita selaku masyarakat Islam masih agak sedikit kesusahan untuk melakukan objektivitas kebudayaan. Namun, tidak dengan proses Eksplorasi dengan Shibgah Islam. Nyatanya dapat kita lihat, hal tersebut sedikitnya telah terkontribusikan dengan proses eksplorisasi nilai-nilai Islam lewat kebudayaan tersebut. Seperti adanya situs-situs Islami, adanya aplikasi kitab-kitab kuning dalam bentuk digital (maktabah syamilah) dan sebagainya.
Memang, kita tak pernah tahu kapan masyarakat Islam bisa kembali menciptakan Objektivitas Material Kebudayan. Namun tidak dengan Objektivitas Non-material, Islam dari awal telah hadir dengan seperangkat kepercayaan, norma, nilai serta peradaban yang khas. Tinggal kita secerdik mungkin melakukan Sibghah Da’wah terhadap kebudayan digital yang ada. Maka dari itu, peluang dakwah di era kebudayaan digital semakin luas. Meski tantangannya pun semakin kompleks dan beragam.
Oleh karenanya, permasalahan kebudayaan kekinian akan bisa terjawab ketika kita selaku masyarakat Islam melakukan kerjasama untuk membaca dinamika kebudayaan. Melakukan eksternalisasi, objektivitas dan internalisasi kebudayaan. Jika hal itu tidak mungkin, maka kita masih bisa melakukan eksplorisasi seperti apa yang dilakukan para Wali dulu. Sehingga nilai-nilai tauhid dan penghambaan kepada Allah Swt tetap eksis disetiap kondisi. Termasuk di era digital ataupun di era yang lebih canggih lagi sekalipun. Wallahu a’lam
http://hamdanatural.wordpress.com/2012/02/03/masyarakat-islam-dan-kebudayaan-digital/
*Salah satu bahan bacaan Intermediate Training PII NTB

0 komentar:

Poskan Komentar

Semangat menulis akan secara perlahan mengganti kebiasaan yang sia-sia menjadi lebih produktif. Mengisi banyak kekosongan dengan aliran ide-ide dan cerita-cerita yang membelajarkan. Dan akan banyak peristiwa yang bisa ditulis disini. Semoga kemudian mengantarkan kita menjadi manusia yang bermanfaat. Amin