Kamis, 29 Juni 2017

TEMAN SETIA YANG TELAH PERGI

Peristiwa itu betul-betul membuat saya berjarak dengan segala hal yg membersamai saya menjadi seperti sekarang ini.

Tidak lama episodenya berlanjut hingga seperti menyambung titik demi titik.

Betul-betul menahan peluh, karena kisahnya begitu sempurna. Yang tidak sempurna adalah sikap saya terhadap peristiwa itu, yang belum mampu jadikan saya semakin dekat kepada-Nya.

Jumat, 16 Juni 2017

KEMBALI KAWAN

Tak sanggup menggores isi
Karena luka menyayat hati
Cukup jadi penanda
Bahwa kisah ini pernah ada

_penanda jalan_

MENDEKATLAH

11 bulan kita bergumul dengan dunia

Bertumpuk pahala bercampur dosa jadi satu

Menegaskan kemanusian kita, insan yang penuh salah dan khilaf

Insan yang diciptakan bercampur akal dan nafsu

Semakin tegas bahwa disaat rasio berbuat bersama itu pula ruang salah kita ada

Ramadhan, hadirkan kesempatan untuk kembali mendekat kepada NYA.

Mendekatlah lebih dekat

Diakhir fase ramadhan ada 10 hari yang disediakan berlipat ganda kebaikan sbg balasan

Aku diantaranya yg mendekat, mengharap dekapan Lailatur Qadr yg terbaik dari 1000 bulan.

Aku menghadap, aku mendekatkan diri lebih dekat meratapi segala salah dan dosa

Memelas ampunan yg dijanjikan

Memelas pengabulan do'a sebagaimana dijanjikan

Aku hadir membawa tumpukan resah gelisah

Menerobos kaca mata dunia yg penuh kesinisan

Aku tidak mau urus, aku berazzam mendekat kepada Rabb

Aku tahu engkau lebih mengetahui setumpuk keresahan ini, dan mungkin hanya secuil bagi-MU

Setumpuk keresahan ini yg ku tulis dalam kertas putih

Aku serahkan kepada-MU, Zat Pemilik segala Kekuasaan, Pemilik Segala Solusi.

Simpuh ini pertanda keterbatasanku bergulat dg kehidupan.

Ud'uuni astajiblakum..aku hanya memenuhi hak ku untuk menengadah tangan, dan Engkau punya Kuasa atas segalaNya.

Aku sudah menyandarkan semuanya dan mengharap yg terbaik dari MU untukku.

_23 Ramadhan 1438_

Rabu, 07 Juni 2017

MENYENTIL INSPIRASI MENULIS


Sejak ramadhan tiba, sudah muncul inspirasi untuk semangat dan fokus menulis satu buku yang sejak dulu tertunda. Tetapi sampai pertengahan bulan ramadhan saya susah menemukan satu fokus menuju kesana. Sehari-hari selama ramadhan sampai hari ke 15 ini seperti terdorong untuk menulis, puasa menurut saya menuntun saya untuk menemukan satu karya buku perdana tetapi saya belum berkemampuan menyambung titik-titik menuju kesana. Namun selama melewati hari-hari ramadhan saya merasa tersentil untuk menulis beberapa ide yang terlintas. Satu kesempatan yang susah diulangi pada saat-saat yang lain. Dalam sebuah karya luar biasa memang yang mahal untuk diapresiasi adalah sebuah ide, maka saya berfikir penting untuk menuliskan lintasan ide-ide ini.
Berbicara tentang buku yang ingin saya tulis sesungguhnya adalah true story tentang inisiasi membangun gerakan di salah satu kelurahan di Kabupaten Dompu yang sampai hari ini regenasinya masih terus berjalan, meskipun ada beberapa hal yang kalau kita sorot lebih dekat sangat jauh pergeserannya dengan generasi awal.
Kemudian lintasan ide-ide yang hendak saya rangkai sebenarnya sederhana tetapi saya ingin sekedar menandai proses hidup saya sampai mana dengan tulisan-tulisan ini.
Beberapa tema yang ingin saya tulis antara lain; Semua Berawal dari Sana. Tulisan ini ingin saya buat untuk membangun mindstream awal tentang sebuah buku yang ingin saya tulis, yang bercerita tentang kerisasuan membangun gerakan positif di sebuah kelurahan di kabupaten Dompu. Karena yang dibangun adalah sebuah gerakan maka pirantinya dibuat dan dibangun sedemikian rupa, dari melahirkan generasi sampai pemetaan pada pos-pos strategis. Dari membangun kultur di sebuah mushollah hingga merancang regenerasi menjadi kontributor peradaban.
Berikut yang ingin saya tulis adalah Memadu Rasa dan Logika. Tulisan ini berangkat dari diskursus berhari-hari tentang kultur kita yang semakin besar semakin menuai benturan. Semakin hari semakin menuai dinamika. Sehingga mempolarisasi kita menjadi dua klaster orang yang perasa dan logis. Diskursus berhari-hari itu seolah susah mempertemukan kedua klaster ini, dan seperti terbangun bahwa keduanya bukan menjadi potensi luar biasa tetapi sesuatu yang saling mengabaikan. Saya merisaukan bahwa kita seperti tidak siap berdinamika karena perdebatan kita adalah membincang sesuatu yang sudah jadi. Dan terlahirlah kita menjadi dua jenis potensi yang berbeda, sesunggunya itu membuat kita semakin besar dan tangguh karena keduanya bisa semakin menyempurnakan keberadaan dan kebersamaan kita.
Saya juga terinspirasi ingin menulis tema tentang Dua Dunia. Tulisan yang menggabarkan tentang ilustrasi dialog dua warna pada satu panggung perhelatan yang dimainkan oleh beberapa orang, mencoba menggambarkan motif komunikasi yang dibangun untuk membangun sistem sebuah komunitas. Bahwa pada cara yang merangkak pun membangun sistem kita mesti masif menyusun kode-kode komunikasi supaya organisasi tetap save dan semua orang didalamnya merasa dibukakan ruang yang sama untuk berdinamika.
Dan saya terinspirasi menulis tema tentang Kita Terhalang Tabir. Berbicara tentang aliran komunikasi yang bercabang-cabang sehingga susah menemukan simpul komunikasi yang konsisten. Yang bisa kita baca sebagai satu keseragaman yang sudah menjadi nilai. Dan karena itu kasusitik kita sering menemukan simbol yang tertukar yang memantik kita membacanya sebagai satu hal yang tidak save. Kajiannya bukan perspektif karena akan jadi subyektif, tetapi ilmiah dengan kaca mata komunikasi organisasi. Mudah-mudahan bisa jadi pendekatan yang positif untuk memperbaiki.
Beberapa tulisan ini sangat realistis karena pendekatannya adalah hadapan sehari-hari dan bacaan terhadap masa depan. Sehingga sekali lagi dengan semangat memberi inspirasi semoga setiap pembaca bisa menemukan jawaban terhadap beberapa hal yang kebetulan sama hadapannya dengan tulisan disini.

Ramadhan, 16.