Selasa, 23 Mei 2017

DUA SRIKANDI YANG RENDAH HATI


Srikandi Mujayanah
Pada malam hari ini tiba-tiba ingin menulis tentang kisah dua srikandi yang luar biasa. Srikandi rendah hati yang hidup di masa yang berbeda. Dua srikandi dengan capaian hidupnya yang luar biasa sesungguhnya mereka bisa jadi apa saja tetapi memilih untuk biasa saja. Dengan kebaikannya yang tak berbalas mereka bisa mengutuk hidup orang tetapi memilih untuk berbesar hati dan berkesimpulan bahwa hidup itu memang harus seimbang. Tidak boleh berlebih suka karena kebaikan orang dan tidak boleh berlebih benci karena sikap tidak baik orang kepada kita.
Jika ditanya kenapa menulis ini. Terus terang saya bisa berkata bahwa ramadhan selalu menghadirkan hati sehingga menjelang ramadhan semua orang selalu melihat hidup dengan hatinya yang baik, sehigga saya juga merasa bahwa momentum ramadhan ini membuat seluruh kisah dahulu seperti memutar memori bahwa setiap ramadhan kita selalu mengukir banyak kenangan yang bisa jadi cerita.
Dua Srikandi yang rendah hati adalah kisah kelembutan dua permaisuri. Ibunda tercinta dan ibu mertua tercinta. Sengaja tidak saya penggal kalimatnya supaya mereka sama-sama mendapatkan makna cinta seorang anak, sekalipun jasa itu tidak bisa dibayar materi, semoga lantunan doa menggantikan sebagian bakti pada mereka.
Srikandi itu bernama Srikandi. Kata srikandi adalah kata yang menggantikan makna pejuang yang disematkan pada para pejuang perempuan. Dan Srikandi pertama ini tidak hanya makna pejuang yang disematkan tetapi srikandi adalah darah daging yang membersamai hidupnya selama ini. Nama pemberian orang tuanya adalah SRIKANDI. Dia adalah wanita luar biasa yang melahirkan saya 30-an tahun yang lalu.
Kalau mengingat kembali, bahwa disetiap waktu menyuapi makan dan menidurkan saya saat kecil beliau selalu berkisah tentang perjalanan sekolahnya yang menempuh jarak yang jauh dengan berjalan kaki. Bercerita tentang kegigihannya belajar dan menuntut ilmu, bercerita tentang melewati masa meraih gelar sarjana, dan juga berkisah tentang meniti masa depan berdua bersama suami tercinta, ayahanda yang sedang dililit ujian, semoga beliau diberi ketabahan dan bersama dengan semua jalan yang dilewati semoga beliau menjadi manusia yang kembali.
Dimasa-masa kecil dulu ibunda selalu membangun mindset, bahwa hidup ini mampu dilalui dengan kemampuan atau kompetensi. Hidup ini bisa dilalui dengan keberanian menghadapinya. Sampai kami beranjak dewasa dan menuntaskan study beliau tidak pernah berhenti berbicara tentang bagaimana seorang manusia membangun cara pandang yang baik tentang hidupnya sendiri. Bahwa hidup itu bisa dilalui atau tidak bergantung pada seperti apa kita membangun konsep berfikir kita tentang hidup itu sendiri.
Ketika dia “jatuh” dalam peperangan hidup yang nyata, beliau masih bisa berdiri tegak, mengorientasi kembali cara padangnya tentang sikap orang kepada kita semestinya tidak mempengaruhi sikap kita terhadap mereka. Ketika kita dijahati, kita tidak berarti harus membalasnya dengan kejahatan pula. Pilihan yang berat. Bagi saya itu adalah pelajaran berharga, mungkin ibarat baru masuk kuliah tetapi diajarkan tentang mata kuliah semester akhir. Tetapi begitulah, sekalipun saya belum sampai maqam itu tetapi saya jadi bersiap diri bahwa suatu saat saya pasti akan berhadapan dengan ujian yang sekelas itu.
Diakhir masa hidup beliau, di kursi tamu, di teras rumah, di dapur sambil menemani beliau memasak, saya selalu ingin membuka tentang cara pandang beliau melihat seorang anak laki-laki lulusan sarjana stata 1 yang belum punya pekerjaan, lalu berkeinginan menikah. Satu tradisi susah (saat itu) yang hampir dihadapi oleh semua pemuda di Dompu. Tradisinya bahwa para orang tua selalu mengizinkan anak lelakinya menikah jika dia sudah memiki pekerjaan tetap dan mapan. Satu tradisi kebanyakan orang. Tetapi saya sungguh mendapat jawaban yang luar biasa. Kata beliau “Cecak itu makanannya sehari-hari adalah nyamuk yang memiliki sayap”. Apalagi kita. Manusia. Punya fisik yang sehat, otak yang cerdas, punya kecapakan berkomunikasi dengan orang lain, punya kemampuan yang mungkin juga tidak dimiliki orang lain, masa kita ragu dengan janji Tuhan. Bahwa setiap kita sudah ditetapkan rizkinya, selanjutnya kita mau atau tidak mejemput rizki tersebut.
Tetapi beliau jatuh sakit, saya harus menunda keinginan meyempurnakan Dien. Sekalipun sebelum beliau pergi beliau selalu mendesak saya membawa seorang gadis pilihan saya ke hadapan beliau. Tetapi saya merasa bahwa kesehatan beliau jauh lebih prioritas dari keinginan itu. Sekalipun kemudian saya sadar bahwa itu isyarat bahwa beliau sedang berkata “Ibu mau tinggalkan kalian, segeralah menikah”.
Setelah berupaya maksimal mengobati beliau akhirnya beliau pergi meninggalkan kita. Dan menitipkan semua nasehat hidup pada kami yang melanjutkannya. Akhir kisah hidupnya juga sangat mengesankan, mengabarkan bahwa beliau sangat bahagia karena sebentar lagi akan diangkat penyakitnya dan beliau akan bisa beraktivitas seperti biasa, dan beberapa jam kemudian kabar yang mengampiri kami justru beliau meninggalkan jejak selamanya.
Saya bahagia. Saya terharu. Tidak ada dari setiap episode bersama beliau yang mengesankan satu cerita yang menyayat hati, karena dengan orang-orang yang berbeda pilihan dengan beliau pun diceritakan dengan nada yang menyejukkan. SRIKANDI yang sampai hari ini selalu mengukir senyum dalam angan. Jika beliau pernah menoreh luka pada orang lain semoga seiring waktu bisa dimaafkan.
Srikandi kedua bernama “mbak”.
Namanya bukan “mbak”, bukan juga srikandi. Tetapi itu gelar buat beliau yang menjadi pejuang buat kedua putrinya. Ketika 6 tahun lalu diundang silaturrahim kerumah teman organisasi. Seorang perempuan cantik dan terlihat masih muda yang saya panggil “mbak” itu ternyata calon ibu mertua. Namanya Mujayanah. Kalau foto bertiga dengan kedua anak gadisnya terlihat seperti tiga bersaudara. Masih terlihat seperti mbak-mbak padahal sudah ibu-ibu.
Pada saat mencium tangannya usai akad nikah, saya merasa seperti menghadirkan Srikandi yang telah hilang. Terasa seperti ibu saya sendiri. Rasa haru seperti menempatkan saya pada masa hidup beberapa tahun dahulu. Ketulusannya menembus ruang dan waktu.
Setiap ibu itu selalu punya cadangan ketulusan buat semua anaknya. Dan ibu mertua ini punya lebih dari itu. Caranya mencintai anaknya buat saya iri, saya khawatir ketika saya jadi orang tua, saya tidak mampu memberi cinta setulus beliau. Beliau sehari-hari selalu mengajarkan tentang cara merawat cinta.
Senyumnya buat hidup kita selalu damai, kerendahan hatinya mengajarkan kita bahwa tidak ada masalah yang bisa menerobos sabar, semua masalah takluk oleh kesabaran. Itulah kekayaan berharga yang beliau punya.
Beliau selalu mengajarkan bahwa niat ikhlas dan kerja keras itu selalu menemukan jalan mencapainya. Sehingga kita mesti mencukupkan sesuatu dengan keikhlasan sehingga tak ada lagi rasa untuk mendengki sesuatu.
Beliau penyayang. Seperti apapun anaknya beliau tidak pernah berubah. Saya selalu diminta pendapat tentang anaknya, perkembangan anaknya, perubahan anaknya, lelaki yang cocok untuk menjadi calon suami anaknya. Dan semuanya mengajarkan tentang begitu penting perang orang tua menjadikan anak kita seperti apa. Dan banyak sekali.
Ibu mertua yang kini menjadi srikandi kedua bagi saya. Semoga beliau diberi umur panjang, semoga setumpuk harapan beliau dapat tercapai. Semoga berkah setiap upaya beliau mendekatkan diri dengan niat besarnya menghadap baitullah.
Dua srikandi rendah hati ini menjadi sosok inspiratif dalam hidup saya. Srikandi pertama mengantarkan sampai saya hingga usia 27 tahun, dan Srikandi kedua melanjutkan banyak materi hidup kepada saya dan keluarga.
Semoga kebaikan mereka menjadi salah satu lantunan disetiap do’a saya selama ramadhan tahun ini. Amin.

Selasa, 16 Mei 2017

KITA ADA DI ZAMAN APA

Dahulu, ruang proses adalah separuh hidupku. Itu yang aku temukan di ruang-ruang yang disediakan setiap organisasi tempatku belajar.

Hingga menemukan garis batas antara kesenjangan idealitas dan realitas.

Tetapi, meskipun disana pergumulan itu membuat kita berlumpur masalah, menutupi seluruhnya dari setiap sendi dari proses kita.

Pada akhirnya kita sepakat bahwa disanalah kita menemukan kesimpulan akhir dari proses belajar kita.

Yaitu menjadi orang hebat menurut cara pandang konsep kaderisasi kita.

Berakhir episode itu, seperti biasa kita berarti masuk ke gerbang episode yang lain.

Kesimpulannya juga sama. Kita membangun masa depan organisasi kita dengan pergumulan ide-ide dan masalah.

Dan sampai pada satu masa dihadapkan pada permulaan sebuah episode perjuangan.

Aku hampir tidak merasa ada hal baru dalam mengayun langkah, melewati satu titik menuju titik yang lain.


Minggu, 07 Mei 2017

KITA AKAN MULAI DARI SINI

3 tahun rumah perjuangan ini pintunya terkunci, lampunya mati, gelap gulita seperti rumah hantu.

Tak berpenghuni. Setiap orang nyaris tak berani mendekat, dia telah tumbuh menjadi momok dalam akar pikiran setiap mereka.

Kita semua terdiam lama, seperti meratapi kesalahan yg kita sadari tapi kita abai.

Bayangan keemasan itu seperti terkubur dihadapan mata kita bersama.

Dia seperti terkubur dalam-dalam. Rumah perjuangan kita telah ditinggalkan.

Sejarah gerakan kita kelam. Dan disebelah sana ada mereka yg merayakan kekelaman cerita yg sedang kita gores.

3 tahun pula kita merawat mimpi-mimpi itu di warung-warung kopi.

Mimpi yg kita ramu dalam kegalauan komunal yang mengisi gelas-gelas kopi kita.

Tapi kita tidak pernah bertemu kebosanan. Seperti ada saja pemantik buat kita memelihara tradisi.

Hingga saat ini ide-ide yg telah bercampur dengan kopi hitam kita menjadi jalan kita menghubungkan titik demi titik sejarah.

Pergulatan kita yang menembus siang dan malam di sosial media, membangunkan kita bahwa tidur panjang ini harus diakhiri.

Ide-ide kita tidak bisa dibiarkan terdiam lama. Dia harus dialirkan, supaya sumbat proses ini memproduksi rijal-rijal di zaman ini.

Kita sadar bahwa tidak boleh ada satu generasipun yang memonopoli, apalagi semakin kokoh dengan status quo.

Dia harus berganti dengan generasi-generasi yg lain, karena setiap zaman diciptakan dengan rijalnya masing-masing.

Itulah pemantik yang mempertemukan kita semua dalam dialog panjang tentang mimpi yg masih berserakan ini.

Dan kita akan memulai semuanya dari sini.

Sebelum langkah ini kita ayun, kita perlu sadar bahwa medan kata-kata tidak lebih baik dari medan aksi.

Kita harus bergulat di dalam arena perjuangan yang sesungguhnya.

Dan hampir sehari kita meramu itu semua dalam penerjemahan sederhana dari cita-cita besar kita tentang rumah perjuangan ini.

Kita sepakat kita tidak ingin melahirkan proses karbitan yang instan, yang mungkin akan mencekik sejarah kita.

Kita ingin langkah pelan tapi pasti.

Kita ingin langkah yang terpetakan, dan itu lahir dari kesadaran kita semua tentang jalan ini.

Dan itu semua butuh nafas panjang. Sehingga butuh kesabaran kita mengatur nafas kita hingga keberhasilan dakwah kita genggam kuat.

Karena butuh nafas panjang, pasti buat kita menuai banyak amal.

Karena butuh nafas panjang pasti lahirkan kita jadi orang-orang yang belajar.

Karena butuh nafas panjang pasti lahirkan kita jadi orang-orang yang sabar.

Karena butuh nafas panjang pasti akan buat kita terproses menjadi otak sekaligus pelaku jalan yg kita pilih ini.

Semoga sketsa cita-cita itu tercipta dari kesabaran kita berjuang.

Semoga suatu saat cerita ini akan jadi penyambung sejarah dimasa esok.

Dan semoga semua ini jadikan kita khairu ummah, dan jadikan kita sebagai calon kuat penghuni jannahnya. Amin

Kamis, 04 Mei 2017

LAMA YANG TERHENTI

Hampir 7 tahun waktu mengikat kita dalam pergulatan kampus yang begitu dinamis.

Waktu pernah mengawali perjumpaan pada lingkaran kecil, bersama 4 kawan yg lain.

Dan kesamaan medan perjuangan membuat perjumpaan kita begitu lama.

Dinamika kala buat kita besar dengan sendirinya.

Dinamika yg buat kita kuat menjadi diri sendiri.

Tapi waktu juga yang merasa kita mesti memilih jalan kita sendiri.

Jarak memutuskan semua akses kita bersapa. Mesti hati kita tidam pernah berjarak.

Dan semua terhenti. Karena doa kita selalu ingin bersapa.

Alhamdulillah kita disuakan kembali, pada momentum yg barangkali kita tdk pernah tau kapan.

Waktu memberi semuanya.

Kita bisa memadu cerita, mengumpulkan semangat utk perjalanan yang masih jauh ini.

Sebentar tapi cukup.
Aku pastikan kau masih sama.

Semoga kita akan terus berjumpa.

Hingga jalan sirot mempertemukan kita kembali.

Sahabat terbaikku.