Jumat, 28 Oktober 2011

KEABADIAN CINTA (Sebuah perjalanan)

Sebutir imaji yang ku tangkap
Kuramu dengan segenggam impian
Dari gelas cita tereguk keinginan yang menjulang
Walau mungkin keberadaannya tak lagi sebening kristal
Tapi masih terasa kesejukkan air di dalamnya
Suatu hari aku yakin air dalam gelas citaku akan bening kembali
Yang kan menghilangkan dahaga jiwa
Dalam keramaian yang sunyi
Aku duduk seorang diri
Mengemasi khayal dan mimpi yang mulai mawar
Karena tersiram rintik fatamorgana yang menyata
Terdiam diantara rekah wangi bunga
Mengumpulkan kasih yang telah terburai
Tanpa sengaja tercium aroma air cinta semalam
Disebalik berputarnya yang tak terarah
Masih ada senyum dari bibir rindu dalam kalbu
Aku tahu itu dan tersemat keyakinan dalam hati ini
Akan keabadian cinta-MU Robby..

*yang terunggah..

Rabu, 19 Oktober 2011

MOHON PERCAYALAH,...(Pengantar Tidur)

Malam ini begitu hening, tanpa suara. Semua sedang terlelap menunaikan hak tubuh berharap semoga esok hari bisa menyambut pagi dengan semangat baru. Dikamar ini tinggal hanya ditemani kipas angin yang akan menjalankan tugasnya hingga mentari siap bertugas kembali. Membagi motivasi untuk semua penghuni jagat ini.

Ditengah keheningan ini, ada kau sebenarnya. Tidak disini, tetapi diseberang sana. Dipulau nan jauh disana, mengejar obsesi dengan segala perbekalan yang masih harus dipenuhi. Kita memang tidak pernah duduk dalam satu perjuangan yang sama, tidak pernah mengayun langkah dalam medan yang sama pula, tapi punya satu ruh yang menggerakkan kita menjadi satu visi yang sama, entah apa pun terjemahan yang menjadi pilihan perjuangan kita masing-masing. Yang pasti aku yakin waktu terbaik itu akan menjelma menjadi senyum terindah diantara kita dan orang-orang yang berdiri disekitar kita. Mereka pula mengharapkan itu.

Kau sesungguhnya hadir dengan segala pakaian kebesaran, gaun kerajaan yang yang membalutimu begitu khas. Tetapi semakin lama perhelatan ini kau ikuti, satu demi satu pakaianmu terlihat usang, hampir tak bisa dikenal aura istana yang mengantarmu hingga didepanku. Tetapi satu hal yang membuatku cepat mengenalimu, cahaya itu masih terpancar kuat dihatimu, cahaya kebaikan yang selalu kau agungkan, walaupun sering terjatuh kau tetap perjuangkan itu selalu ada menyertaimu.

Ditengah kunikmati lantunan syair penyejuk hati, aku seperti mendengar isak tangis kesedihan, seperti tak jauh dari tempat dudukku. Suara itu terdengar sangat khas. Hatiku lebih dulu mengenalinya, ternyata isak tangis dengan derai air mata itu, sangat ku kenali. Suara yang pernah membisik kata obsesi bersama mengejar kesempurnaan agama.

Aku akhirnya menghampiri sumber suara yang semakin lama semakin tak enak untuk didengar, memaksa air mata begitu deras bercucuran. Menarik masuk dalam aura kesedihan yang begitu menjebak.

Telah ku ada didepannya. Apa gerangan yang terjadi. Kutanyakan kepadanya. Adakah berita duka yang hendak dibagi untuk diselesaikan.

Ternyata ada harga diri yang terasa telah dipertanyakan. Digugat, dan diragukan. Di goyah dan diungkit kembali. Sangat menyesakkan. Ku elus bahu kecil itu dengan kata-kata, hingga ia tenang dan beristigfar. Ku dalami, hingga ku jejaki apa gerangan yang membuat ari mata seperti banjir menyusup hingga kesudut-sudut selokan.

Ternyata ia merasa dibunuh karakternya. Ia merasa ruang geraknya dibatasi. Ia merasa seperti tak dipercayai lagi. Apa guna hidup katanya, jika harga diri ini di tenteng seperti bangkai yang tak ternilai.

Mohon percayalah. Jangan terus berada dalam ruang paranoid. Ini pilihan mulia yang tidak bisa dikontaminasi. Ini ruang masa depan yang kita harus hati-hati memilih langkah pertama untuk memulai.

Kita bisa!!! Itu yang telah ia rasuki kedalam otakku. Hingga terasa begitu menggerakkan langkah ini.

Tertahan cukup lama isak tangis itu akhirnya hilang tanpa bekas. Air mata itu tinggal jejaknya. Ada harap yang ia titipkan bersama anggukan keyakinan setelah dialog panjang yang mereka geluti.

Entahlah,..
Akankah menjadi seperti pepatah katakana akan menjadi merugi ketika masuk kedalam lubang yang sama kedua kalinya.

Tapi percayalah tak ada obat penawar yang lain yang mahaguru dahulu berikan setelah ia nikmati setiap aliran darah yang dihinggapi bahwa Zat mulia yang ke-Maha Kuasa-annya tiada bandingannya menjanjikan kemuliaan dan kesempurnaan itu pada satu jalan terbaik yang selalu dikejar oleh para pencari kenikmatan hingga mereka berharap menjadi para hamdzolah modern.

Hingga jalan ini tetap kita lalui dengan segala ridho-NYA.
Restu disetiap langkah kita adalah kebahagiaan yang hendak kita petik disaat nanti..

Jumat, 14 Oktober 2011

NUANSA TERINDAH

Perjalanan sejauh ini, ingin rasanya mengukirnya dalam goresan emas, menjadi satu cerita terindah yang pertama dalam perjalananku.

Kau tahu kan kalau kita dahulu tak pernah bersua, kita hanya pernah saling curi pandang ketika aura itu begitu mengisi setiap ruang hampa dalam hati kita.

Aku sebenarnya hanya ingin hadir, sekedar sapa lalu pergi berlari mengejar bayang-bayang masa depan yang aku saat itu masih susah menggambarkannya lewat goresan pena.
Tapi, ternyata kita sedang berada disatu kapal menuju pelabuhan yang sama, kita punya cara pandang yang hampir sama untuk menahan gempuran gelombang, hembusan angin yang sesekali mengancam pelayaran ini.

Ditengah samudera ini kita kemudian mengungkap satu kata yang sama untuk sebuah perjuangan yang mulia, untuk sebuah obsesi yang kenikmatannya selalu dikejar oleh setiap pencari kenikmatan yang hakiki.

Dalam satu perjalanan ini, kita tahu sebelumnya bahwa ombak dan badai ini tak selalu membawa kita menyusuri pulau yang sedang kita tuju, kadang-kadang ia menerpa, menghadang, sampai kerajaan kita di atas laut ini hampir terbalik dan tenggelam, hampir saja memberikan berita yang tinggal namanya saja.

Aku tahu ditengah kelebihan dan kekurangan aku menentukan bahwa inilah pilihan terbaik, inilah jalan yang dahulu kucari untuk ku susuri hingga akhirnya nanti menjadi mahligai yang selalu harum.

Kita tak pernah bersua lama, hingga akhirnya bayanganmu sering menjadi muncul dan akhirnya tenggelam, sering seperti sempurna namun lebih sering tak jelas.
Kini kau hadir meninggalkan pena, merapat bersama dingin dan sepi menuju nuansa hati yang sedang hampa menunggu nasib.

Ada senyum menyambut tawa bahagia yang hadir bersama mentari pagi itu, menghapus segala lelah, menghilangkan segala penat yang lahir bersama kebisingan jalan kota yang ku lewati.

setiap lirik berbalut senyum menyegarkan hati-hati yang menunggu nasib, dililit sakit yang merenggut. Hilang waktu dan segalanya disita oleh setetes rasa yang aku sendiri tak kuasa untuk merintih. Hanya bisa ku tatap senyum keterpaksaan, menutup tetesan darah kehidupan yang tiap detik ku hitung, tiap waktu ku melihatnya, dengan susulan kegelisahan, apakah gerbang sehat yang menjadi selimut, ataukah tinggal menghitung hari berpindah pada alam yang penuh dengan perhitungan.

Hanya ada kita, aku dan kau. Mengukur jejak dengan segala canda obsesi yang sudah menggunung. Rasa menguasai jiwa, senyum tak hentinya menghiasi wajah seri yang aku tak akan pernah lupa bentuknya. Tapi rasa ini belum jelas hitungannya, antara maju terjerumus ataukah jauh kemudian kehilangan. Simalakama.

Aku nikmati saja, sembari ku syukuri ini adalah anugerah yang tak pernah ku rasa. Anugerah yang aku ingin mengulangnya setiap waktu yang berputar. Tak ingin lenyap rasa bahagia yang menandai jejak bahagia ini.

Aku mendamba nuansa terindah ini.
Aku berdoa semoga ini lah jalan itu.
Jalan yang salah satunya telah menjadi impian besarku dalam meniti kehidupan ini.